Kilas Balik (Cerpen)
KILAS BALIK
Sepuluh hari setelah pelantikan Jefry
Sekitar jam tuju pagi saat udara terasa dingin, saat tubuh enggan beranjak menyongsong pagi pak Gatot membangunkan aku. Dengan kaus merah tipis dan celana levis panjang berwarna coklat aku bangun tergopoh-gopoh berjalan menuju warung bu Gatot. Muka kusut dan tak sepenuhnya rela untuk menerima masalah aku berjalan sambil tertidur berusaha melawan rasa jengkel berharap keputusan untuk ikut campur urusan para pedagang kaki lima dan pemerintah kota Surabaya ini. Aku berharap ini hanya bagian dari mimpi yang segera akan berakhir. Tapi dalam mimpi tak ada rasa sakit sebagaimana aku dengan luka di telapak kaki yang mengaga disambut angin pagi yang meski menyapa lembut namun mengundang perih tatkala menyentuh setiap luka.
Bapak dimana bu? Tanyaku pada bu Lis Istri pak Gatot. Bapak didepan “yang” jawabannya singkat. Aku memang sering di panggil yang dari kata sayang atau nyo dari kata sinyo dan memang sepertinya juga berlaku untuk setiap orang yang dikenal bu Lis. Tentu saja kata ini biasa digunakan oleh banyak orang dalam beragam situasi mungkin saja bentuk ekspresi kedekatan pribadi. Kata-kata sinyo sendiri kutemui dalam tetralogi pulai buruh tulisan Parmudya tapi merasa tak yakin bu Lis juga menggunakan sumber yang sama.
Kembali ke kamar untuk membangunkan yang lain namun sepertinya sia-sia. Mereka tidur seperti mayat. Bastian hanya membuka matanya dan sedikit mendongak lalu kembali tertidur. Setan! Aku mengumpat dalam hati kalau bukan karena dirimu aku tak terlibat persoalan ini dan sekarang kau hanya menatap dan merasa diriku sekedar bagian dari bunga tidurmu. Ada sekitar sepuluh orang di kamar tidur ini dan hanya satu yang terjaga dan membuka matanya melihatku. Cepat bangun Rakitik ! Suaraku pelan tapi tetap tegas ini perintah bukan sekedar meminta bantuan. Ingin rasanya aku berteriak dan memaki-maki tapi aku masih bisa menahan diri tak ada gunanya menghabiskan energi untuk membangunkan manusia-manusia ini.
Bersama Iwan saya kembali ke warung pak Gatot. Entah kenapa Iwan dipanggil rakitik meski tak banyak bicara dan datar ia sangat konsisten dan setia. Tak sungkan mengkritisi tapi juga tak sekedar cuci tangan jika ada masalah. Ia tak terlihat antusias tapi memang ia mengendalikan dirinya agar semangatnya tak tersirat diwajahnya namun langkah dan kesetiaannya menjadi bukti bahwa ia pun punya semangat yang membara.
Pak Gatot memasuki gerbang tampak berusaha menutupi kerisauan, berusaha tersenyum ramah. “Makan dulu Sten” pak Ia menawarkan. Ku pesan seporsi rawon . Pagi itu semuanya gratis. Ku tak lapar tapi aku berusaha untuk mengisi perutku agar tidak kosong. Memang tidak nyaman makan dalam keadaan genting
Pak Babin wes tuku pak? Aku bertanya dalam bahasa Jawa. Gurung jawabnya singkat. Sejauh ini aku masih percaya pada netralitas polisi apalagi melalui salah satu anggota telik sandi yang kami kenal berjanji melindungi dan membela para PKL. Berbeda dengan sikap Bastian yang sejak awal tidak ingin polisi terlibat. Mereka berpura -pura baik sten! Padahal sedang mempermainkan kita. Menurutmu dalam kasus ini apa untungnya mereka mempermainkan kita?!.
uang mungkin!? Ia coba mereka-reka , bisa kauperjelas Bastian?, Ia diam berpikir dan tampak memang belum menemukan apapun. Bas kita tidak mengikuti kasus ini sejak awal, pak Gatot bergerak sendiri dan sekarang ini kita ingin terlibat tanpa mengetahui persoalan sebenarnya. Lagi pula kita tidak campur tangan jika Ketua belum memutuskan. Tepatnya disini kisah ini dimulai.
Kami memang sudah mendengar desas – desus tentang pedagang di taman simpang yang akan segera dipindahkan oleh pemerintah kota melalui kuasa kecamatan. Namun desas-desus tak ubahnya kabar angin yang tidak memberikan apapun selain berbagai spekulasi di meja diskusi yang penuh dengan komentar-komentar tak berbobot dan kalkulasi yang meleset. Bicara keadilan memang gampang tapi komitmen untuk terlibat tak cukup dengan bersilat lidah.
Kita harus turun kak! Tegas Jefry
Mulai dari mana kita?, ia berpikir sejenak. Bagaimana kalau kita langsung turun saja? Maksudmu Demo? Ya..? Sedikit kurang yakin dengan Idenya Sendiri.
Menghadapi kasus hukum seperti ini bukan hal biasa bagi kami yang lebih sering berwacana daripada terlibat sungguh bersama rakyat. Tak jarang memang rakyat jadi komoditas mereka yang mengaku aktivis sekedar untuk mengisi dompet, sebatang rokok, atau jabatan politik. Demonstrasi itu jalan terakhir ketika diplomasi diatas meja tak lagi menguntungkan.
###
Belum juga aku menghabiskan isi rawon di piring tiga orang Satuan Tugas Polisi Pamong Peraja dan dua orang limnas berpakaian hitam muncul di mulut jalan taman simpang langsung menuju stan PKL meminta para PKL untuk segerah mengemas dagangannya dan memindahkan setandanya ke pojok gang. Aku melepaskan piring berusaha mengendalikan diri agak tetap tenang menuju tepat pada saat para PKL ini mengemas barangnya. “selamat pagi pak !, aku menyapanya dan sambil menyelami tangan salasatu petugas Pol PP . Tatapan mengancam sekaligus curiga tergambar jelas di wajah orang yang aku salami. Aku meminta para PKL untuk tidak mengemas barangnya, loh sampean mau apa!! Si petugas mulai meninggikan nada suaranya. Sambil memperkenalkan diri aku seperti sedikit memelas meminta sang petugas untuk berbicara di tempat yang lebih tenang. Bersih tegang di tempat terbuka seperti ini bukan pilihan terbaik para petugas ini bisa saja merasa terhina dan bisa bertindak lebih keras jika mereka terpojok.
Kami perlahan meninggalkan para PKL menuju warung pak Gatot. Tanpa basa basih pimpinan dari tiga orang POLPP laki-laki berbadan gemuk membuka memulai pembicaraan “ kami menjalankan tugas mas, bukankah dari kemarin sudah dikirim ke sini surat peringatan untuk segera memindahkan lokasi !?. Betul pak! Aku membenarkan.
Tolong suratnya pak, aku meminta pak Gatot menunjukkan surat itu pada POLPP. Pak Gatot menunjukkan dua pucuk surat dari kelurahan dan kecamatan. Isi surat ini tidak jauh beda meminta para PKL menyingkir karena dianggap mengganggu ketertiban umum.
Pak kami memang telah menerima surat dan setelah kami selidiki dasar peraturan perundang-undangan yang dipakai pemerintah kota memiliki banyak kecacatan. Taman simpang ini bukan bagian dari jalan umum yang menjadi obyek yang masuk dalam pengaturan undang-undang yang dimaksud dalam surat. Plank biru yang bertuliskan “BUKAN JALAN UMUM” dari dinas perhubungan Kota Surabaya Sendiri yang dipasang pada mulut jalan sudah menyiratkan bahwa isi surat ini tidk bisa kami terima. Selain itu Rapat kemarin yang diselenggarakan di kecamatan yang dihadiri oleh perwakilan warga dan pihak kecamatan tak melahirkan keputusan final. Hari ini janjinya pertemuan di lanjutkan namun kenapa kok tiba-tiba jadinya pemindahan?.
Aku berusaha bernada santun tanpa niat menantang dan memojokkan lawan bicara. Setiap orang memiliki hati nurani hati yang berani untuk jujur pada kebenaran dan menentang kesewenang-wenangan. Tugasku hanya menjelaskan fakta tanpa berusaha menggiring opini dan memberi kesempatan pada lawan bicara untuk berani berpikir sekalipun dengan hasil yang mungkin juga tidak aku harapkan. Kondisi fisiku yang sedikit melemah dengan wajah kurang tidur membuat egoku tertidur. Bu gatot menyuguhkan kopi untuk para praja suasana jadi santai dan entah kenapa kami seperti begitu bersahabat.
Dia mencium bau busuk konspirasi. Tapi ia hanya orang suruhan terlatih mengikuti perintah atasan tanpa perlu bertanya mengapa?. Namun tiga orang praja ini tak menutup pintu hati, mereka mau diajak bicara bergumul dengan pikiran rakyat dan mulai berpikir tentang yang benar. Ini agak tak lazim sebab aparatur sipil di negeri ini lebih takut pada atasan daripada taat pada hukum, mereka lebih suka melanggar nurani daripada kehilangan jabatan. Hanya mereka yang berpikiran jernih dan mau mendengarkan persoalan dan bertindak adil. Sadar bahwa tindakannya keliru tiga orang SATPOL PP pulang meninggalkan taman simpang tanpa kembali pada para PKL.
###
Hari itu mentari tak secerah biasanya. Gumpalan awan putih berkumpul di langit kota tak seorang pun yang memedulikan pukul berapa sekarang. Mereka yang terlelap tidur Sudah terjaga. Bastian orang yang pertama melangkah keluar pagar. Akhirnya! Aku bergumam dalam hati. Badan kurus bukan karena kurang makan memang postur tubuhnya sudah demikian tapi hatinya teguh jika berurusan dengan ketidakadilan meski dalam banyak situasi ia bahkan tak dapat berbuat banyak untuk membela mereka yang tertindas. Ya yang tertindas. Mereka yang tak pernah bisa membaca dan menulis bermimpi untuk duduk di bangku sekolah mungkin tak pernah. Apalagi mempertahankan hak dan martabat sebagai manusia.
Tapi situasinya juga pelik bagi mereka yang terlatih untuk mengeja kata dan menyusun kalimat sebab persoalan penindasan tak selesai hanya dengan membaca! itulah yang dialami Bastian. Negri ini memang bukanlah negeri dongeng dimana kebenaran selalu menjadi milik mereka yang berusaha untuk adil dan jujur bahkan hanya dengan pena dan sederet kata-kata. Toh mereka yang sedang menindas bergelar sempurna akhir dari segala gelar kehormatan dalam tradisi akademik, berakhir menjadi boneka dari kekuasaan yang bertindak atas nama masa depan. Nyata bagi rakyat masa depan hannyalah mimpi segelintir elite tapi menjadi perkasa karena stempel para pemodal. Terakhir Munir orang kurus seperti Bastian mati dalam pesawat dibunuh menggunakan racun yang diduga dicampur dalam makanan. Tak ada akhir yang bahagia untuk mereka mengabdikan diri pada kebenaran selain kematian yang tragis dan harapan surga yang hampa.
Sejak awal dialah yang bisa membaca kejanggalan ini namun Ia tak lebih baik dari pak Gatot yang lebih dulu mengambil langkah taktis. Bastian berusaha memprovokasi lewat komentar -komentar bernada sinis berusaha menyuguhkan hidangan yang benar namun tak menarik untuk disantap, bahkan sejak semula Ia sudah mengambil langkah non kooperatif dengan pihak-pihak yang dianggapnya penghianat. Jika pak Gatot mencari penyelesaian pada orang -orang berpengaruh maka Bastian memilih kepastian kata-kata dan ayat konstitusi. Gambaran seorang intelektual yang berusaha matang dengan keberaniannya menjunjung tinggi hukum sebagai panglima, berusaha keras beriman pada konstitusi.
Gimana Sten? Bastian berusaha memperoleh kejelasan. Tadi sudah ada tiga Satpol PP datang mereka pergi setelah mendapat keterangan dari kita. Baguslah! Ia tampak senang.
Ini terlalu mudah Bastian!, Ia juga merasakan hal yang sama. Tak banyak kasus yang membuktikan bahwa rakyat selalu menang atas modal dan penguasa sekalipun secara konstitusi kebenaran itu mutlak milik rakyat. Di Republik ini hukum dimiliki oleh mereka yang membayar lebih tinggi toh kalaupun sesekali hukum berpihak pada yang kecil itu tak lebih dari pengecualian.

Komentar
Posting Komentar