CINTA PEREMPUAN

Aku mengirim puisi saat kekasihku ulang tahun

reaksinya biasa saja, dan mengaggap puisiku itu

hanya bualan para lelaki pengumbar cinta.

Ia sempat berujar, Cinta tak perlu  kata-kata sayang. Ia sendiri butuh  30 hari untuk mengatakan bahwa “Aku juga menyukaimu”,. Saat hari harinya dirundung susah Ia juga paling banyak bicara, dan jika aku menimpali  kata-katanya Ia katakan bahwa kau lelaki tak mengerti perasaan perempuan.

Suatu saat ia berkata, jika ingin menikahiku kau harus mapan. Mungkin aku salah dalam belajar, atau keliru dalam memaknai cinta. Namun aku tahu bahwa cinta tak pernah punya syarat.Kalauapun dipaksanakan syaratnya hanyalah kehidupan. Bagi pacarku itu semua teori, apa guna sebuah sajak jika tanpa aksesoris? Katanya!.

Sudah lebih dari 675 hari kami saling menyukai …namun semenjak kami menjalin cinta …baru sekali ia ungkapkan cinta meski tanpa aksesori. Saat awal bertemu pandang  melempar senyum di bawa sorotan lampu  taman  kota yang sepi. Ia pernah mengcup pipiku di sebuah toko sepatu wanita,dan mengatakan love you…saat mendapatkan sebuah jaket brendid dari galeri toko ternama. Mungkin aku akan menghabiskan seluruh hidupku untuk mendapatkan cintanya jika aku kelak benar-benar menikahinya. Namun ia tak mengerti puisiku..puisi terbaiknya adalah uang…dan sajak terindahnya ialah barang bermerek… .

 Ternyata bukan hanya aku saja …temanku mengeluhkan pacarnya .. terkadang lagu dan gitarnya malah menjadi bahan cibiran pacarnya… suatu saat kekasihnya ingin keluar negeri dan memaksa menjual gitarnya yang peroleh dari tabungannya dua bulan hanya untuk  mengurus passport. Belum lagi jika bertemu teman-temannya...ia tak ingin penampilan biasa saja.. make up harus bermerek, gincunya wajib buatan Paris dan ia akan mendekam sehari penuh di salon kecantikan …katanya untuk meremajakan kulit..seolah air dan sabun mandinya sudah tak mampu mengembalikan rupanya yang anggun di tahun sebelumnya ujar temanku itu. Aku terdiam sebentar… lalu tersenyum memikirkan kekasih pacarku itu … mungkin tak lama lagi ia akan meminta mengubah wajahnya . Apakah kau akan menekuni musik?, Ia manatapku ..datar ia katakan… tidak.

Tidak salah jika perempuan ingin tampil sempurna kan? Aku bertanya pada diriku sendiri saat berhenti menulis puisi. Terlintas bayangan perempuan lain … Sosok itu agak berbeda… Ia perempuan  berpangkat, seorang abdi Negara yang setia. Tiap pagi bangun dan membangunkan anaknya untuk misa pagi di sebuah gereja dekat rumah. Sesudahnya ia akan mengambil jalan pulang bukan langsung ke rumah namun singgah untuk berkeliling pasar mencari sayur dan lauk untuk dihidangkan pada keluarganya setiap pagi. Ia tak punya lemari rias khusus.. aksesoris makeup ala kadarnya… tak begitu bermerek hanya sekedar memberi warna dan melindungi kulitnya dari panas. Aku pernah memberinya sebuah tas bekas … dan betapa terkejutnya saat ia memakainya di acara perkawinan saudara perempuanku smenentara tas-tas mewahnya ahnya tergantung begitu saja dilemari. Suatu ketika spontan aku ucakan I Love You… ia tersenyum dan matanya berbinar-binar meski sedang duduk di samping jasad suaminya.  Saat tu aku tersadar Perempuan itu bukan pacarku, bukan pacar dari temanku, tapi Ibuku.


Komentar